Pengelolaan kawasan pesisir yang menghadapi tekanan lingkungan semakin kompleks membutuhkan lebih dari sekadar solusi teknis. Diperlukan tata kelola yang mampu menghubungkan kebijakan, data ilmiah, serta koordinasi lintas sektor agar respons yang dibangun benar-benar adaptif dan berkelanjutan.

Semangat inilah yang menjadi landasan kolaborasi antara Center for Integrated Coastal Zone Management (ICZM) Universitas Diponegoro dan Mercy Corps Indonesia melalui Program Zurich Climate Resilience Alliance (ZCRA) dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Transformasi Pengelolaan Kawasan Pesisir Terpadu (ICZM) di Pantura Jawa Tengah melalui Implementasi Collaborative Institutional Strengthening (CIS) yang diselenggarakan pada 21 April 2026 di Semarang

Kegiatan ini merupakan bagian dari proses Kajian ICZM Tahap 2 yang berfokus pada penyusunan rekomendasi kebijakan dan program prioritas untuk pengelolaan kawasan pesisir berbasis risiko dan berbasis bukti ilmiah. Kajian ini secara khusus menyoroti wilayah prioritas di Pantai Utara Jawa Tengah, meliputi Pekalongan Raya, Semarang Raya, dan Kabupaten Demak, sebagai kawasan yang menghadapi tekanan perubahan lingkungan pesisir yang semakin intensif

Menjawab Kompleksitas Risiko Pesisir Pantura

Pantai Utara Jawa Tengah merupakan kawasan strategis yang menopang berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari industri, pelabuhan, perikanan, hingga kawasan permukiman. Namun pada saat yang sama, kawasan ini juga menghadapi tantangan lingkungan yang saling berkaitan.

Fenomena banjir rob yang semakin parah, abrasi, penurunan muka tanah (land subsidence), intrusi air laut, degradasi ekosistem pesisir, hingga perubahan penggunaan lahan yang tidak terkendali telah menciptakan tekanan multidimensi terhadap kawasan pesisir.

Di sejumlah wilayah, persoalan tersebut bahkan telah berkembang menjadi kondisi yang lebih ekstrem. Genangan pesisir yang sebelumnya bersifat periodik kini berubah menjadi ancaman permanen akibat kombinasi pasang surut laut, limpasan sungai, dan penurunan muka tanah. Pada beberapa lokasi, abrasi ekstrem bahkan telah menyebabkan hilangnya daratan dan permukiman secara permanen.

Dinamika ini menunjukkan bahwa persoalan pesisir tidak lagi dapat ditangani melalui pendekatan sektoral yang berjalan sendiri-sendiri.

Dari Kajian Menuju Rekomendasi Implementatif

Sebagai mitra akademik dalam kajian ini, ICZM UNDIP berperan dalam penyusunan analisis strategis yang menghubungkan dinamika spasial kawasan pesisir dengan kebutuhan kebijakan pembangunan yang lebih adaptif.

Kajian Tahap 2 ini mengembangkan pendekatan yang lebih komprehensif dengan mengintegrasikan:

  • analisis perubahan garis pantai dan dinamika spasial pesisir,
  • identifikasi tipologi risiko pesisir,
  • evaluasi aspek sosial dan kerentanan masyarakat,
  • penguatan perspektif inklusivitas,
  • hingga perumusan rekomendasi kebijakan tata ruang dan pembangunan daerah.

Melalui forum ini, tim tenaga ahli ICZM Center UNDIP memaparkan isu strategis utama, temuan kajian, arah rekomendasi kebijakan, serta matriks rencana aksi lintas sektor sebagai dasar implementasi pengelolaan pesisir terpadu

Pendekatan ini menegaskan bahwa pengelolaan pesisir bukan hanya persoalan infrastruktur atau mitigasi fisik, tetapi juga menyangkut tata ruang, penghidupan masyarakat, ketahanan sosial, serta arah pembangunan jangka panjang.

Mendorong Penguatan Kelembagaan Kolaboratif

Salah satu rekomendasi utama yang mengemuka dalam Kajian ICZM Tahap 2 adalah pentingnya penguatan tata kelola kelembagaan melalui mekanisme koordinasi lintas sektor.

Dalam konteks ini, pendekatan Collaborative Institutional Strengthening (CIS) diperkenalkan sebagai upaya membangun model koordinasi yang lebih efektif antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan.

Forum diskusi ini tidak hanya menjadi ruang penyampaian hasil kajian, tetapi juga wadah untuk menguji implementasi konsep tersebut secara awal melalui dialog bersama para pemangku kepentingan.

Partisipasi peserta yang berasal dari berbagai organisasi perangkat daerah, institusi teknis, akademisi, forum perencanaan, NGO, hingga mitra pembangunan menunjukkan bahwa transformasi pengelolaan pesisir memang membutuhkan pendekatan kolaboratif yang melampaui batas kewenangan sektoral

Memperkuat Ketahanan Pesisir melalui Kolaborasi

Keterlibatan ICZM UNDIP dalam inisiatif ini mencerminkan komitmen berkelanjutan dalam menghadirkan kontribusi akademik yang relevan terhadap penguatan ketahanan pesisir di Jawa Tengah.

Melalui kolaborasi dengan Mercy Corps Indonesia, kajian ini diharapkan tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi dapat menjadi fondasi bagi kebijakan yang lebih implementatif, terukur, dan adaptif terhadap risiko perubahan iklim.

Ke depan, pengelolaan kawasan pesisir Pantura Jawa Tengah membutuhkan sinergi yang semakin kuat antara ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan aksi kolektif lintas sektor agar transformasi menuju wilayah pesisir yang lebih tangguh dapat benar-benar terwujud.