Bagaimana ekonomi biru dapat diwujudkan secara nyata di Jawa Tengah? Pertanyaan tersebut menjadi titik awal diskusi dalam seminar daring bertajuk Strengthening Competence for Stakeholders to Achieve the Blue Economy yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDM) Provinsi Jawa Tengah pada 4 November 2025.
Kegiatan ini dibuka oleh Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah dan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai institusi, termasuk Bappeda Provinsi Jawa Tengah, DPRD, serta Center for Integrated Coastal Zone Management (ICZM) Universitas Diponegoro.
Seminar ini menjadi ruang diskusi penting untuk memperkuat pemahaman para pemangku kepentingan mengenai implementasi ekonomi biru, khususnya dalam konteks pembangunan wilayah pesisir yang berkelanjutan. Salah satu pesan utama yang mengemuka adalah bahwa pembangunan ekonomi berbasis kelautan tidak dapat dipisahkan dari kondisi ekologis wilayah pesisir yang menopangnya.
Dalam kesempatan tersebut, Center for ICZM Universitas Diponegoro berkontribusi melalui pemaparan yang disampaikan oleh Dr. Aris Ismanto, dosen dan peneliti Oseanografi Universitas Diponegoro sekaligus Direktur Center for ICZM UNDIP, yang telah lama berkecimpung dalam kajian oseanografi pesisir dan pengelolaan wilayah pesisir terpadu.
Menjaga Ekosistem sebagai Fondasi Ekonomi Biru
Dalam paparannya, Dr. Aris Ismanto mengajak peserta untuk melihat ekonomi biru tidak semata sebagai peluang pertumbuhan ekonomi, tetapi sebagai pendekatan pembangunan yang harus bertumpu pada keberlanjutan ekosistem.
Ekosistem pesisir seperti mangrove, padang lamun, hingga perairan pesisir memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Kawasan-kawasan ini berfungsi sebagai pelindung alami pantai, habitat biota, penyerap karbon, serta ruang produktif bagi sektor perikanan dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.
Namun demikian, pesisir Jawa Tengah menghadapi tekanan yang semakin kompleks. Fenomena penurunan muka tanah, banjir rob, perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta pemanfaatan ruang yang belum sepenuhnya terkendali menjadi tantangan nyata yang perlu direspons secara serius.
Dalam konteks tersebut, Dr. Aris menekankan bahwa keberhasilan implementasi ekonomi biru sangat bergantung pada kemampuan seluruh pihak dalam menjaga kesehatan ekosistem pesisir.
Tanpa fondasi ekologis yang kuat, konsep ekonomi biru berisiko hanya menjadi agenda pembangunan jangka pendek yang tidak mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
Peran Sains dalam Tata Kelola Pesisir
Seminar ini juga menegaskan pentingnya pengetahuan berbasis sains dalam mendukung perencanaan pembangunan pesisir yang lebih tepat sasaran.
Sebagai pusat kajian pengelolaan pesisir terpadu, ICZM UNDIP terus mendorong pendekatan yang menghubungkan ilmu pengetahuan, kebijakan, dan implementasi di lapangan. Kontribusi akademik tidak hanya berhenti pada penyediaan data dan analisis ilmiah, tetapi juga pada upaya membangun pemahaman bersama mengenai kompleksitas dinamika pesisir.
Kehadiran ICZM UNDIP dalam forum ini mencerminkan komitmen berkelanjutan untuk mendukung penguatan tata kelola wilayah pesisir di Jawa Tengah, termasuk melalui edukasi, kajian strategis, serta pendampingan ilmiah bagi pemangku kebijakan.
Kolaborasi untuk Masa Depan Pesisir Jawa Tengah
Dr. Aris juga menekankan bahwa transformasi menuju pembangunan pesisir yang berkelanjutan tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Diperlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, legislatif, sektor swasta, serta masyarakat untuk membangun kebijakan dan tindakan yang selaras dengan kondisi lingkungan.
Keterlibatan ICZM UNDIP dalam seminar ini menjadi pengingat bahwa mewujudkan ekonomi biru bukan hanya tentang memanfaatkan potensi laut, tetapi juga tentang memastikan ekosistem yang menopangnya tetap sehat dan berfungsi.
Melalui kontribusi ilmiah dan keterlibatan aktif dalam berbagai forum strategis, ICZM UNDIP terus mengambil peran sebagai mitra akademik dalam mendorong pengelolaan pesisir Jawa Tengah yang lebih tangguh, adaptif, dan berkelanjutan.